Rabu, 17 Agustus 2016

Jalan Sehat Menyenangkan dan menyehatkan

Kudus (18/8/2016), Dalam memperingati 17 Agustus 2016,  MI NU RAUDLATUS SHIBYAN PEGANJARAN mengadakan jalan sehat yang diikuti oleh bapak ibu guru dan ratusan siswa siswi.

Jalan Sehat merupakan media berkumpul, olahraga ringan yang menyehatkan serta sangat efektif dalam membangun komunikasi dan kebersamaan sebagai sivitas kelembagaan. Tutik Sumiyati selaku WAKA Keaiswaan Madrasah mengatakan bahwa Kekompakan dan kebersamaan merupakan modal dasar yang sangat penting dalam mencapai visi dan misi Madrasah dan juga sebagai media promosi di tengah tengah masyarakat. Madrasah kami dipercaya bahwa anak anak mereka untuk disekolahkan di madrasah kami. Kami juga dengan dewan guru akan memberikan yang terbaik untuk anak dan mencapai tujuan pembelajaran.
Moment 17an memperingati HUT RI KE 71 ini sangat pas untuk kegiatan jalan sehat, selain anak jalan dan menyatu dengan alam dan juga media refresing dan wisata alam juga. Tutur Wakil Ketua Madrasah Ibu Trisnawati.
Jalan sehat ini Bisa dilakukan di mana saja
Abdul Hadi, S.Pd.I selaku guru muda yang mengajar Olahraga mengtakan, Berjalan kaki adalah aktivitas yang bisa dilakukan di berbagai tempat, tanpa harus pergi ke gym atau menggunakan track khusus. Meskipun dalam kondisi berolahraga, anda tidak akan nampak seperti orang yang melakukan aktivitas olahraga; sehingga bisa melakukan jalan kaki di manapun tanpa merasa risih, canggung, bisa menikmati semua yang anda lihat, menyapa orang yang anda temui, serta melakukan aktivitas sampingan lainnya. Selain itu, karena bisa dilakukan dimanapun, maka anda bisa berjalan sejauh apapun dan kemanapun. Hal ini memastikan anda bisa meningkatkan jarak tempuh, menambah atau membuat tujuan lain, dan membuat variasi sebanyak mungkin. Dengan cara ini, anda bisa melakukan aktivitas olahraga yang menyenangkan, tidak menegangkan, dan bahkan bisa membakar kalori dan lemak jauh lebih banyak. Tidak kalah penting, berjalan kali juga bisa digabung dengan aktivitas rekreasi ke tempat tujuan khusus, yang tentu semakin menyenangkan dan tidak terasa sebagai rutinitas menjenuhkan!.
===rashibnews.

Sejarah Pencipta Lagu Hari Merdeka

SANG PENYELAMAT BENDERA PUSAKA DAN PENCIPTA LAGU "HARI MERDEKA" ADALAH SEORANG KETURUNAN RASULULLAH

Tepat hari ini 17 Agustus 2016 adalah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Pada hari yang sangat spesial ini, ada satu hal yang menjadi momen “suci” bangsa Indonesia khususnya di saat detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI, yakni pengibaran bendera pusaka Sang Saka Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka.

Sang Saka Merah Putih sebagai bendera pusaka ternyata mempunyai catatan sejarah yang cukup heroik sehingga harus diselamatkan dari penjajahan Belanda saat itu. Jika tidak, mungkin anak cucu keturunan bangsa Indonesia sekarang ini tidak dapat menyaksikan bendera pusaka sebagai salah satu bukti sejarah kemerdekaan Indonesia. Tahukah anda bahwa sang penyelamat bendera pusaka dari tangan penjajah saat itu adalah seorang habib, yang mempunyai darah pertalian keturunan dengan Sayyidina Muhammad Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa alihi wa shohbihi wa sallam?

Sayyidil Habib Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad Al-Muthahar, beliau lah sang penyelamat bendera pusaka Sang Saka Merah Putih dari tangan penjajah. Tanpa jasa beliau, bangsa Indonesia sekarang mungkin sudah tidak dapat melihat lagi bendera pusaka yang dijahit oleh istri Presiden Soekarno, Ibu Fatmawati. Saat itu, Presiden Soekarno menugaskan Habib Muhammad Husein Muthahar yang berpangkat Mayor untuk menjaga dan menyelamatkan bendera pusaka dari tangan penjajahan Belanda meski harus dengan mengorbankan nyawanya. Amanah “menjaga bendera pusaka dengan nyawa” ini pun berhasil dilaksanakan sang Habib dengan penuh perjuangan.

KH Achmad Chalwani Nawawi, pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Gebang, Purworejo yang juga Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah menuturkan bahwa Habib Muhammad Husein Muthahar yang merupakan penyelamat bendera pusaka ini adalah paman dari Habib Umar Muthohar Semarang.

Ingin tahu kisah sang Habib dalam menyelamatkan bendera pusaka? Berikut adalah kisah selengkapnya tentang penyelamatan bendera pusaka oleh Habib Muhammad Husein Muthahar ini yang mesti diketahui oleh bangsa Indonesia khsusunya umat Islam agar tahu bagaimana perjuangan para pendahulu bangsa ini dalam mempertahankan kemerdekan Republik Indonesia.

KISAH HEROIK PENYELAMATAN BENDERA PUSAKA OLEH HABIB MUHAMMAD HUSEIN MUTHAHAR

Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih adalah sebutan bagi bendera Indonesia yang pertama. Bendera Pusaka dibuat dan dijahit oleh Ibu Fatmawati, istri Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno. Bendera pusaka untuk pertama kali berkibar pada Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, setelah Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bendera dinaikkan pada tiang bambu oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang dipimpin oleh Kapten Latief Hendraningrat. Setelah dinaikkan, lagu “Indonesia Raya” kemudian dinyanyikan secara bersama-sama.

Pada tahun pertama Revolusi Nasional Indonesia, Bendera Pusaka dikibarkan siang dan malam. Pada 4 Januari 1946, karena aksi teror yang dilakukan Belanda semakin meningkat, presiden dan wakil presiden Republik Indonesia dengan menggunakan kereta api meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta. Bendera pusaka dibawa ke Yogyakarta dan dimasukkan dalam koper pribadi Soekarno. Selanjutnya, ibukota dipindahkan ke Yogyakarta.

Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresinya yang kedua yang membuat Presiden, wakil presiden dan beberapa pejabat tinggi Indonesia akhirnya ditawan Belanda. Di saat-saat genting dimana Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta dikepung oleh Belanda, Presiden Soe­karno sempat memanggil salah satu ajudannya berpangkat Mayor yang bernama Sayyidil Habib Muhammad Husein Muthahar, yang kemudian ditugaskan untuk menyelamatkan sang bendera pusaka. Penyelamatan bendera pusaka ini merupakan salah satu bagian “heroik” dari sejarah tetap berkibarnya Sang Merah putih di persada bumi Indonesia. Saat itu, Soe­karno berucap kepada Habib Husein Muthahar:

“Apa yang terjadi terhadap diriku, aku sendiri tidak tahu. Dengan ini aku memberikan tugas kepadamu pribadi. Dalam keadaan apapun juga, aku memerintahkan kepadamu untuk menjaga bendera kita dengan nyawamu. Ini tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Di satu waktu, jika Tuhan mengizinkannya engkau mengembalikannya kepadaku sendiri dan tidak kepada siapa pun kecuali kepada orang yang menggantikanku sekiranya umurku pendek. Andaikata engkau gugur dalam menyelamatkan bendera ini, percayakanlah tugasmu kepada orang lain dan dia harus menyerahkannya ke tanganku sendiri sebagaimana engkau mengerjakannya.”

Di saat bom-bom berjatuhan dan tentara Belanda terus mengalir melalui setiap jalanan kota, Habib Husein Muthahar terdiam dan memejamkan matanya, berpikir dan berdoa. Amanah “menjaga bendera pusaka dengan nyawa” dirasakannya sebagai tanggungjawabnya yang sungguh berat. Setelah berpikir, Habib Husein Muthahar pun menemukan solusi pemecahan masalahnya. Sang Habib ini membagi bendera pusaka menjadi 2 bagian dengan mencabut benang jahitan yang menyatukan kedua bagian merah dan putih bendera itu. Dengan bantuan Ibu Perna Dinata, kedua carik kain merah dan putih itu berhasil dipisahkan. Oleh Habib Husein Muthahar, kain merah dan putih itu lalu diselipkan di dasar dua tas terpisah miliknya. Seluruh pakaian dan kelengkapan miliknya dijejalkan di atas kain merah dan putih itu. Sang Habib hanya bisa pasrah, dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang ada dalam pemikiran Habib Husein Muthahar saat itu hanyalah satu, yakni bagaimana agar pihak Belanda tidak mengenali bendera merah-putih itu sebagai bendera, tapi ha­nya kain biasa, sehingga tidak melakukan penyitaan. Di mata seluruh bangsa Indonesia, bendera itu adalah sebuah “prasasti” yang mesti diselamatkan dan tidak boleh hilang dari jejak sejarah.

Benar, tak lama kemudian Presiden Soekarno ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Prapat (kota kecil di pinggir danau Toba) sebelum dipindahkan ke Muntok, Bangka, sedangkan wakil presi­den Mohammad Hatta langsung dibawa ke Bangka. Habib Husein Muthahar dan beberapa staf kepresidenan juga akhirnya tertangkap dan diangkut dengan pesawat Dakota. Mereka dibawa ke Semarang dan ditahan di sana. Pada saat menjadi tahanan kota, Habib Husein Muthahar berhasil melarikan diri dengan naik kapal laut menuju Jakarta.

Di Jakarta Habib Husein Mutahar menginap di rumah Perdana Menteri Sutan Syahrir, yang sebelumnya tidak ikut mengungsi ke Yogyakarta. Beberapa hari kemudian, Habib Husein Muthahar indekost di Jalan Pegangsaan Timur 43, di rumah Bapak R. Said Soekanto Tjokrodiatmodjo (Kepala Kepolisian RI yang pertama). Selama di Jakarta Habib Husein Muthahar selalu mencari informasi dan cara, bagaimana bisa segera menyerahkan bendera pusa­ka kepada presiden Soekarno. Pada suatu pagi sekitar pertengahan bulan Juni 1948, akhirnya ia menerima pemberitahuan dari Sudjono yang tinggal di Oranje Boulevard (sekarang Jalan Diponegoro) Jakarta. Pemberitahuan itu menyebutkan bahwa ada surat dari Presiden Soekarno yang ditujukan kepadanya.

Sore harinya, surat itu diambil oleh Habib Husein Muthahar dan ternyata memang benar berasal dari Soekarno pribadi. Isinya sebuah perintah agar ia segera menyerahkan kembali bendera pusaka yang dibawanya dari Yogya kepada Sudjono, agar dapat diba­wa ke Bangka. Soekarno sengaja tidak memerintahkan Habib Husein Muthahar sendiri datang ke Bang­ka dan menyerahkan bendera pusaka itu langsung kepadanya. Dengan cara yang taktis, ia menggunakan Soedjono sebagai perantara untuk menjaga kerahasiaan perjalanan bendera pusaka dari Jakarta ke Bangka. Itu tak lain karena dalam pengasingan, Soekarno hanya boleh dikunjungi oleh anggota delegasi Republik Indonesia dalam perundingan dengan Belanda di bawah pengawasan UNCI (United Na­tions Committee for Indonesia). Dan Sudjono adalah salah satu anggota delegasi itu, sedangkan Habib Husein Muthahar bukan.

Setelah mengetahui tanggal keberangkatan Soedjono ke Bangka, Habib Husein Muthahar berupaya menyatukan kembali kedua helai kain merah dan putih dengan meminjam mesin jahit tangan milik seorang istri dokter yang ia sendiri lupa namanya. Bendera pusaka yang tadinya terpisah dijahitnya persis mengikuti lubang bekas jahitan tangan Ibu Fatmawati. Tetapi sayang, meski dilakukan dengan hati-hati, tak urung terjadi juga kesalahan jahit sekitar 2 cm dari ujungnya. Dengan dibungkus kertas koran agar tidak mencurigakan, selanjutnya bendera pusaka diberikan Habib Husein Muthahar kepada Soedjono untuk diserahkan sendiri kepada Presiden Soekarno. Hal ini sesuai dengan perjanjian Soekarno dengan Habib Husein Muthahar sewaktu di Yogyakarta. Dengan diserahkannya bendera pusaka kepada orang yang diperintahkan Soekarno maka selesailah tugas penyelamatan yang dilakukan Habib Husein Muthahar. Sejak itu, Sang Habib tidak lagi menangani masalah pengibaran bendera pusaka.

Tanggal 6 Juli 1949, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta kembali ke Yogyakarta dari Bangka dengan membawa serta bendera pusaka. Tanggal 17 Agustus 1949, bendera pusaka dikibarkan lagi di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta. Pada 27 Desember 1949, naskah pengakuan kedaulatan lndo­nesia ditandatangani dan sehari setelah itu Soekarno kembali ke Jakarta untuk memangku jabatan Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS). Setelah empat tahun ditinggalkan, Jakarta pun kembali menjadi ibukota Republik Indonesia. Hari itu juga, bendera pusaka dibawa kembali ke Jakarta. Dan untuk pertama kalinya setelah Prok­lamasi Kemerdekaan Indonesia, bendera pusaka Sang Saka Merah Putih kembali berkibar di Jakarta pada peringatan Detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1950. Karena kerapuhan bendera pusaka, sejak tahun 1968, bendera yang dinaikkan di Istana Negara adalah replika yang terbuat dari sutra.

Pada tahun 1968, Habib Muhammad Husein Muthahar membentuk organisasi mahasiswa Pasukan Pengibar Bendera Pusaka, atau Paskibraka (Bendera Pusaka Flag Hoisting Troop). Paskibraka inilah yang nantinya akan selalu bertugas sebagai pasukan pengibar bendera pusaka pada setiap upacara HUT Kemerdekaan Republik Indonesia hingga sekarang. Selain membentuk Paskibraka, beliau pun menyusun tata cara pengibaran bendera pusaka. Atas jasanya ini, beliau mendapat julukan Bapak Paskibraka Indonesia.

SANG KOMPONIS LAGU INDONESIA YANG FENOMENAL, HARI MERDEKA, DAN HYMNE SYUKUR

Habib Muhammad Husein Muthahar tidak hanya dikenal sebagai penyelamat bendera pusaka dan pendiri Paskibraka saja tetapi beliau juga seorang komponis lagu Indonesia yang hebat. Habib yang dikenal dengan nama H. Mutahar ini telah menghasilkan ratusan lagu Indonesia, seperti lagu nasional Hari Merdeka, Hymne Syukur, Hymne Pramuka, Dirgayahu Indonesiaku, juga lagu anak-anak seperti Gembira, Tepuk Tangan Silang-silang, Mari Tepuk, dan lain-lain.

Lagu Hari Merdeka dan Hymne Syukur adalah salah satu lagu fenomenal yang diciptakan oleh Habib Muhammad Husein Muthahar. Terkait penciptaan lagu Hari Merdeka, ada satu cerita yang menarik. Ternyata inspirasi lagu Hari Merdeka ini muncul secara tiba-tiba saat beliau sedang berada di toilet salah satu hotel di Yogyakarta. Bagi seorang komponis, setiap inspirasi tidak boleh dibiarkan lewat begitu saja. Beliau pun cepat-cepat meminta bantuan Pak Hoegeng Imam Santoso (Kapolri pada 1968 –1971). Saat itu Pak Hoegeng belum menjadi Kapolri. Sang Habib menyuruh Pak Hoegeng untuk mengambilkan kertas dan bolpoin. Berkat bantuan Pak Hoegeng, akhirnya jadilah sebuah lagu yang kemudian diberi judul “Hari Merdeka”. Sebuah lagu yang sangat fenomenal dan sangat terkenal yang banyak dinyanyikan oleh bangsa Indonesia, bahkan anak-anak pun sangat hafal dan pandai menyanyikannya.

Berikut lirik lagu Hari Merdeka ciptaan Habib Muhammad Husein Muthahar:

Hari Merdeka

Tujuh belas agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap sedia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap sedia
Membela negara kita

Selain “Hari Merdeka”, lagu berikut juga menjadi karya fenomenal beliau. Judulnya “Syukur”. Lagu ini tercipta setelah menyaksikan banyak warga Semarang, kota kelahirannya, bisa bertahan hidup dengan hanya memakan bekicot. Berikut lirik lagunya:

Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniamu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
Kehadiratmu Tuhan

Dan masih banyak lagi karya fenomenal beliau yang lainnya.

Habib Muhammad Husein Muthahar meninggal dunia di Jakarta pada usia hampir 88 tahun, pada 9 Juni 2004 akibat sakit tua. Semestinya beliau berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata dengan upacara kenegaraan sebagaimana penghargaan yang lazim diberikan kepada para pahlawan. Tetapi, beliau tidak menginginkan itu. Sesuai dengan wasiat beliau, pada 9 Juni 2004 beliau dimakamkan sebagai rakyat biasa di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut Jakarta Selatan dengan tata cara Islam.

Allahu yarhamhu, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat (kasih sayang) kepada beliau, Sayyidil Habib Muhammad Husein Muthahar. Semoga jasa dan perjuangan beliau untuk Tanah Air Indonesia dibalas dengan surga dan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga pula beliau tercatat sebagai pejuang yang syahid. Amin Ya Robbal ‘Alamin, Alfatihah….

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-71, JAYALAH NEGERIKU JAYALAH BANGSAKU
17 AGUSTUS 1945 – 17 AGUSTUS 2016

Selengkapnya: http://www.elhooda.net/2015/08/habib-muhammad-husein-muthahar-penyelamat-bendera-pusaka-sang-saka-merah-putih/.

Upacara HUT RI KE-71

Kudus (17/8/2016), Rangkuman teks Sambutan pembina upacara dari Gubernur Jawa Tengah yang disampaikan oleh Bapak Abdul Hadi, S.Pd.I selaku Kepala Madrasah NU Raudlatus Shibyan Peganjaran Bae Kudus pada acara upacara peringatan HUT RI KE 71 yang diselenggarakan di Lapangan Peganjaran rabu,17 Agustus 2016. Kemerdekaan telah lebih dari 7 dasawarsa bangsa yang berdikari.kita ingin membuktikan kepada dunia kita adalah bangsa yang berketuhanan dalam kemanusiaan yang adab.bangsa yang Bhineka Tunggal Ika. Kebebasan kita hari ini adalah kebebasanbyg harus bisa dipertanggung jawabkan kepada Alloh SWT bangsa dan masyarakat Indonesia.janganlah kita mudah terhasut terprovokasi atas tindakan terorisme dan radikalisme apalagi hingga intoleransi yang mengancam keutuhan NKRI.Narkoba, kekerasan terhadap Perempuan dan anak,hanya ada satu kata:Lawan ! Korupsi kita cegah sejak dini. Dalam kegiatan ini diikuti  oleh semua dewan guru dan murid dari mulai tingkat MI.MTs.MA NU sebanyak kurang lebih 800 peserta. Abdul Manan selaku ketua panitia ini mengatakan bahwa kegiatan ini kita selenggarakan bersama satu yayasan setiap lembaga agar untuk menjalin kebersamaan dan juga melaksanakan hasil raker dalam setahun. Agenda setelah upacara 17an kita juga mengadakan Tahlil bersama yang diikuti seluruh bapak ibu guru karyawan.deng tujuan mendoakn para pahlawan NU yang meninggal di medan perang.acara ini selain lagu kebangsaan kita lantunkan diantaranya adalah  indonesia raya,Hari Merdeka,kami juga menyanyikan lagu Syubbanul Wathon karya pahlawan Nasional KH. Wahab Hasbullah seorang pejuang NU dalam memperjuangkan NKRI. di bumi NUsantara ini. merdeka merdeka merdeka.

Senin, 25 Juli 2016

MATSAMA MTs NU RAUDLATUS SHIBYAN

Sahabat Rashib
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) telah usai, liburan panjang akhir tahun ajaran telah rampung, disusul libur hari raya yang telah habis. Hari ini tanggal 18 Juli 2016 adalah hari pertama masuk pada tahun pelajaran 2016/2017. Di tahun pelajaran baru, ada murid baru yang telah siap memasuki "gerbang" baru dan tentunya di sekolah baru, tempat mencari ilmu. Selain murid baru ada juga yang masuk dikelas baru yakni satu tingkat diatas pada kelas sebelumnya.
Bagi peserta didik baru pada RA dan Madrasah akan memulai kegiatan di RA dan Madrasah baru dengan mengikui kegiatan Masa Ta'aruf Siswa Madrasah (MATSAMA) yang merupakan kegiatan yang dilaksanakan untuk peserta didik baru di Madrasah. Bagi siswa RA dan Madrasah yang naik kelas atau masuk pada kelas baru meskipun tidak melaksanakan MATSAMA namun mereka juga akan mengikuti kegiatan yang bersifat pengenalan pada kelas baru.
Berikut dibawah ini materi kegiatan MATSAMA (bagi peserta didik baru) dan Kegiatan awal tahun pelajaran bagi siswa Madrasah yang naik kelas sehingga masuk pada kelas baru :
JENJANG RAUDLATUL ATHFAL (RA) DAN MADRASAH IBTIDAIYAH (MI)
Materi MATSAMA bagi peserta didik baru RA dan peserta didik baru Kelas I (satu) MI diisi dengan kegiatan pengenalan Madrasah, antara lain :
1. Sosialisasi;
2. Cara belajar (belajar sambil bermain);
3. Kumpulan data kepentingan Tata Usaha Madrasah dan Komite Madrasah;
4. Kegiatan keagamaan;
5. Kegiatan kepramukaan.
Adapun bagi peserta didik kelas II (dua) sampai dengan kelas VI (enam) MI dapat diadakan kegiatan yang bersifat konstruktif dan edukatif sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik yang mencakupi kegiatan :
Penyusunan pengurus kelas;
Pengenalan warga kelas;
Menciptakan kegiatan yang dinamis di kelas dengan dipandu wali kelas;
Pembentukan kelompok belajar;
Menyusun tata tertib kelas;
Pembenahan 7 (tujuh) K (Kebersi Keamanan, Ketertiban, Keindahan, Kekeluargaan, Kesehatan dan Kerindangan);
Kegiatan keagamaan.
JENJANG MADRASAH TSANAWIYAH (MTs) DAN MADRASAH ALIYAH (MA)
Materi MATSAMA bagi peserta didik baru kelas VII (tujuh) MTs dan Kelas X (sepuluh) MA diisi dengan kegiatan MATSAMA, antara lain :
1. Pengenalan Madrasah (program, struktur, tata tertib, kode etik/tata krama Madrasah, orientasi kepramukaan dan lain-lain);
2. Penanaman konsep pengenalan diri peserta didik dan kegiatan keagamaan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional;
3. Pendidikan karakter bangsa dan agama;
4. Kegiatan kesiswaan;
5. Peraturan Baris Berbaris (PBB);
6. Pembentukan pengurus kelas;
7. Pembagian kelompok belajar;
8. Mencatat jadual;
9. Tata cara diskusi kelompok dengan dipandu oleh panitia dan wali kelas melakukan bimbingan.
10. PTG . Penerimaan Tamu Galang
Adapun Bagi peserta didik Kelas VIII (delapan) dan Kelas IX (sembilan) MTs serta Kelas XI (sebelas) dan Kelas XII (dua belas) MA, yang menjadi pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dapat dilibatkan dalam kegiatan MATSAMA, sedangkan yang tidak masuk dalam pengurus OSIS diisi dengan kegiatan :materi pembelajaran kelas;
Pembentukan kelompok belajar;
Teknik berdiskusi;
Pendidikan karakter bangsa dan agama;
Mencatat jadual;
Menyusun tata tertib kelas;
Kegiatan 7 (tujuh) K;
Kegiatan keagamaan; (satu) tahun termasuk indikator yang ingin dicapai;
Penelusuran bakat dan minat siswa.
Hal terpenting yang perlu diketahui dalam pelaksanaan MATSAMA an kegiatan awal tahun pelajaran yakni semua materi tersebut diatas harus dilaksanakan dengan memuat nilai-nilai pendidikan dengan kegiatan pembiasaan dan pengembangan diri yang dilandasi nilai-nilai religius serta dipandu oleh wali kelas masing-masing dengan melibatkan guru yang mengajar di kelas tersebut.
Demikian info mengenai Materi MATSAMA Dan Kegiatan Awal Tahun Pelajaran Bagi Siswa RA, MI, MTs, Dan MA , semoga ada manfaatnya._ Rashib News

Rabu, 06 April 2016

Ujian Madrasah dan Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN) MTs NU Raudlatus Shibyan

Hari ini,Kamis,7 April 2016 sebanyak113 siswa MTs NU Raudlatus Shibyan Peganjaran mengikuti Ujian Madrasah (UM) dan Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN). Kegiatan ini serentak di kabupaten kudus dibawah Naungan LP. Ma'arif NU Kudus. Selama 9 hari kedepan mulai 7-16 April 2016 peserta didik melaksanakan UM dan UAMBN. Mastuningsih, salah satu siswa MTs kesiapannya dalam ujian sudah sejak kemaren dengan belajar dan berikhtiar doa agar nantinya bisa mengerjakan dengan hasil nilai yang memuaskan.Memang sebelumnya anak anak mengikuti ujian dari pihak madrasah sudah memberi pembekalan dengan mengaktifkan belajar kelompok bersama dan secara spiritual anak ziarah ke makan sunan kudus,Kh. Ahmad Mutamakkin Kajen Pati dan mengamalkan membaca surat al insyiroh (alam nasroh.red)sebanyak 53X.bertabarrukan berwasilah sebagai ciri khas warga nahdliyyin. Untuk UN dilaksanakan tanggal 9 - 12 Mei 2016.serentak di Indonesia.

Minggu, 03 Januari 2016

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

OSIS MA NU RAUDLATUS SHIBYAN BERSHOLAWAT

Senin ini 4 Januari 2016 peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.kumandang sholawat dan suara hadroh mengiringi maulid.Osis MA NU RAUDLATUS SHIBYAN Peganjaran Bae Kudus.

Peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu (Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya sebagai tanda suka cita. Dan karena kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin tiba.
Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati, karena kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya?
Beliau saw. sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah pada hari itu atas nikmatNya yang terbesar kepadanya.
Peringatan Maulid Nabi SAW mendorong orang untuk membaca shalawat, dan shalawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala, Allah SWT berfirman:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻣَﻼﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺻَﻠُّﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴﻤﺎً
" Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman,bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya. " (QS Al-Ahzab: 56).

Jumat, 11 Desember 2015

Maulid Nabi Muhammad SAW

MAULID / MAULUD NABI MUHAMMAD 2015 BERTEPATAN DENGAN
12 Rabiul Awal 1436 Hijriyah atau 24 Desember 2015. Alhamdulillah, maulud nabi sebentar lagi datang. Umat Islam kembali diingatkan dengan kelahiran Rasulullah yang mulia. Walau memang mengingat kemuliaan Rasul tidak boleh hanya ketika setiap hari kelahiran saja namun bagi setiap orang yang beriman pastilah akan ada "krentek" dalam hati mereka setiap hari kelahiran beliau datang. Lalu bagaimana pandangan para ulama tentang hukum memperingati maulud nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam ini?
Mari kita baca / simak tulisan dibawah ini dengan hati yang tenang :)
1. Imam Jalaluddin Sayuthi :
"Bahwasanya beliau ditanya orang tentang amal maulud nabi pada bulan rabiul awal, apakah hukumnya menurut syara', apakah pekerjaan itu dipuji atau dicela, apakah si pelaku diberi pahala atau tidak ?
Jawab saya, kata imam Suyuthi: Pokok dari amal maulud itu adalah bahwa manusia berkumpul lalu mereka membaca sekedarnya ayat-ayat al-Quran suci, kemudian membaca kisah-kisah sejarah nabi dan kisah-kisah bagaimana situasinya pada nabi dilahirkan, kemudian mereka makan bersama dan bubar, tidak lebih dari itu. Ibadah macam itu adalah bid'ah hasanah yang diberi pahala mengerjakannya karena dalam amal ibadah itu terdapat suasana membesarkan nabi, Melahirkan kesukaan dan kegembiraan atas lahirnya nabi Muhammad yang mulia (Ianatut thalibin III halaman 363)
2. Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Mufti Madzhab Syafi'i di Makkah al-Mukaramah:
"Telah berlaku kebiasaan, bahwa orang apabila mendengar kisah nabi dilahirkan, maka ketika nabi lahir itu mereka berdiri bersama-sama untuk menghormat dan membesarkan nabi. Berdiri ini adalah suatu hal yang mustahsan atau baik, karena dasarnya ialah membesarkan nabi Muhammad dan sesungguhnya telah mengerjakan hal serupa itu banyak dari ulama-ulama ikutan umat." (Ianatut thalibin, juz III, halaman 363)
3. Imam Al-Halabi:
"Telah dikabarkan, bahwa di hadapan imam Subki pada suatu kali berkumpul banyak ulama pada zaman itu. Kemudian salah seorang daripada mereka membaca perkataan Sharshari dalam memuji nabi. Pada ketika itu Imam Subki dan sekalian ulama yang hadir berdiri serempak menghormati nabi." (Ianatut Thalibin juz III, halaman 364).
4. Imam Abu Syamah:
"Suatu hal ang baik ialah apa yang dibuat tiap-tiap tahun bersetuju dengan hari maulud nabi muhammad. Memberi sedekah, membuat kebajikan, melahirkan kegembiraan dan kesenangan, maka hal itu selain berbuat baik bagi fakir miskin, juga mengingatkan kita untuk mengasihi junjungan kita nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam, membesarkan beliau, dan bersyukur kepada Tuhan atas karunia-Nya, yang telah mengirim seorang rasul, yang dirasulkan untuk kebahagiaan seluruh makhluk." (Ianatut Thalibin, Juz III, halaman 364)
Intinya memperingati Maulud Nabi Itu Boleh, dan bahkan mendapatkan pahala apabila menghadirkan rasa cinta, memuliakan Rasulullah dan akibat-akibat lain yang baik.